menu

Tampilkan postingan dengan label akhlaktasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlaktasawuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Akhlak kepada Orang tua

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ’Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra: 23-24)
         
   Dari ayat diatas terlihat jelas bagaimana penting dan besarnya arti diri orang tua di sisi Allah Subhanahu Wa Ta ala.  Jika beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta ala wajib maka berbakti kepada kedua orang tua juga wajib.  Sebaliknya, kalau ingkar kepada-Nya adalah dosa besar, begitu pula durhaka kepada orang tua.  Dan berbuat baik kepada orang tua bukan hanya semasa hidupnya akan tetapi sampai matipun si anak tetap wajib berbakti kepada mereka.
         

Akhlak kepada Nabi dan Rasul



Akhlak kepada Nabi

Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul; tidak ada lagi Nabi, apalagi rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab 33:40). Beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat nanti (QS.Saba’ 34:28). Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS. Al-anbiya’ 21:107).






Nabi Muhammad saw telah berjuang selama lebih kurang 23 tahun membawa umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliaulah yang berjasa besar membebaskan umat manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan. Berbagai penderitaan beliau alami dalam perjuangan itu; dihina, dikatakan gila, tukang sihir, tukang tenung, penyair, disakiti, diusir dan hendak dibunuh; tapi semuanya itu tidak sedikitpun menyurutkan hati beliau untuk tetap berjuang membebaskan umat manusia.